× Home Daftar Isi Disclaimer Tentang Blog
Menu

Serba Ada

Serba Serbi

Trik Menentukan Orbital Hibrida (Hibridisasi)

Materi: kimia
Secara teori untuk menentukan orbital hibrida bukan perkara mudah bagi kebanyakan pembelajar kimia. Meskipun demikian pemahaman teoritis tentu sangat penting. Namun keputusasaan sering menghentikan mereka untuk belajar lebih jauh. Untuk itu diperlukan cara relatif sederhana dalam menentukan hibrida sebagai acuan mempermudah memahami konsep orbital hibrida itu sendiri. Trik menentukan orbital hibrida suatu senyawa atau ion dapat ditentukan hanya dengan menghitung jumlah elektron valensi tiap atom dalam senyawa atau ion itu dan dilakukan proses hitung sederhana hingga diperoleh kesimpulan yang cukup manjur.
Ketentuan pembagi jumlah elektron valensi:
  1. Jumlah elektron 2 sampai 8 maka pembaginya adalah 2. Hasil bagi tersebut merupakan jumlah pasangan elektron berikatan (PEI). Jika ada sisa, maka sisa dibagi 2, dan hasilnya merupakan jumlah pasangan elektron bebas (PEB).
  2. Jumlah elektron lebih dari 8 hingga 56 pembaginya adalah 8.
    Hasil bagi tersebut merupakan jumlah pasangan elektron berikatan (PEI). Jika ada sisa, maka sisa dibagi 2, dan hasilnya merupakan jumlah pasangan elektron bebas (PEB).
  3. Jumlah elektron lebih dari 56 pembaginya adalah 18.
    Hasil bagi tersebut merupakan jumlah pasangan elektron berikatan (PEI). Jika ada sisa, maka sisa dibagi 2, dan hasilnya merupakan jumlah pasangan elektron bebas (PEB). 
  4. Bila dijumpai jumlah elektron valensi berjumlah ganjil atau sisa hasil bagi 8 adalah 1, lihat ketentuan sebagaimana 2 contoh akhir dengan kasus berbeda.
Silakan simak langsung pada contoh dengan harapan langsung dapat dipahami pembaca.

H2O (O sebagai atom pusat) ➡ 2 atom H elektron valensi @ 1, 1 atom O elektron valensi 6
Jumlah elektron valensi = 2 × 1 + 6 = 8
8 ÷ 2 = 4
➡ orbitalnya ada 4, terdiri 1 orbital s dan 3 orbital p jadi orbital hibridanya sp3
➡ jumlah pasangan elektron bebas (PEB) = jumlah orbital – jumlah atom disekitar atom pusat.
Jadi pada atom pusat O terdapat PEB sebanyak 2. Angka ini didapat dari 4 – 2 (angka 2 ini menunjukkan atom H).

CN–➡C elektron valensi 4, N elektron valensi 5, menerima 1 elektron
Jumlah elektron valensi = 4 + 5 + 1 = 10
10 ÷ 8 = 1 sisa 2, 2 ÷ 2 = 1. Jadi jumlah orbitalnya adalah 1 + 1 = 2
➡ orbitalnya ada 2, terdiri 1 orbital s dan 1 orbital p jadi orbital hibridanya sp
➡ jumlah PEB = jumlah orbital (2) – jumlah atom disekitar atom pusat (1) = 1

NH4+ ➡N elektron valensi 5, H elektron valensi 1, melepas 1 elektron
Jumlah elektron valensi = 5 + (4 × 1) – 1 = 8
8 ÷ 2 = 4. Jadi jumlah orbitalnya adalah 4
➡ orbitalnya ada 4, terdiri 1 orbital s dan 3 orbital p jadi orbital hibridanya sp3
➡ jumlah PEB = jumlah orbital (4) – jumlah atom disekitar atom pusat (4) = 0

PCl5 ➡P elektron valensi 5, Cl elektron valensi 7
Jumlah elektron valensi = 5 + (5 × 7) = 40
40 ÷ 8 = 5. Jadi jumlah orbitalnya adalah 5
➡ orbitalnya ada 5, terdiri 1 orbital s, 3 orbital p dan 1 orbital d jadi orbital hibridanya sp3d
➡ jumlah PEB = jumlah orbital (5) – jumlah atom disekitar atom pusat (5) = 0

XeF2 ➡Xe elektron valensi 8, F elektron valensi 7
Jumlah elektron valensi = 8 + (2 × 7) = 22
22 ÷ 8 = 2 sisa 6, 6 ÷ 2 = 3. Jadi jumlah orbitalnya adalah 2 + 3 = 5
➡ orbitalnya ada 5, terdiri 1 orbital s, 3 orbital p dan 1 orbital d jadi orbital hibridanya sp3d
➡ jumlah PEB = jumlah orbital (5) – jumlah atom disekitar atom pusat (2) = 3

XeOF2 ➡Xe elektron valensi 8, O elektron valensi 6, F elektron valensi 7
Jumlah elektron valensi = 8 + 6 + (2 × 7) = 28
28 ÷ 8 = 3 sisa 4, 4 ÷ 2 = 2. Jadi jumlah orbitalnya adalah 3 + 2 = 5
➡ orbitalnya ada 5, terdiri 1 orbital s, 3 orbital p dan 1 orbital d jadi orbital hibridanya sp3d
➡ jumlah PEB = jumlah orbital (5) – jumlah atom disekitar atom pusat (3) = 2

XeOF4 ➡ Xe elektron valensi 8, O elektron valensi 6, F elektron valensi 7
Jumlah elektron valensi = 8 + 6 + (4 × 7) = 42
42 ÷ 8 = 5 sisa 2, 2 ÷ 2 = 1. Jadi jumlah orbitalnya adalah 5 + 1 = 6
➡ orbitalnya ada 6, terdiri 1 orbital s, 3 orbital p dan 2 orbital d jadi orbital hibridanya sp3d2
➡ jumlah PEB = jumlah orbital (6) – jumlah atom disekitar atom pusat (5) = 1

XeO2F2 ➡Xe elektron valensi 8, O elektron valensi 6, F elektron valensi 7
Jumlah elektron valensi = 8 + (2 × 6) + (2 × 7) = 34
34 ÷ 8 = 4 sisa 2, 2 ÷ 2 = 1. Jadi jumlah orbitalnya adalah 4 + 1 = 5
➡ orbitalnya ada 5, terdiri 1 orbital s, 3 orbital p dan 1 orbital d jadi orbital hibridanya sp3d
➡ jumlah PEB = jumlah orbital (5) – jumlah atom disekitar atom pusat (4) = 1

Bagimana bila jumlah elektron valensinya ganjil?
Atom yang terikat pada atom pusat keelektronegatifan tinggi atau beda keelektronegatifannya dengan atom pusat cukup besar. Sebagai patokan unsur yang keelektronegarifannya besar bila niainya ≥ 2,80. Seperti F (3,98), O (3,44), Cl (3,16), N (3,04), Br (2,96).
NO2 ➡ N elektron valensi 5, O elektron valensi 6
Jumlah elektron valensi = 5 + (2 × 6) = 17
17 ÷ 8 = 2 sisa 1.
Karena atom sekitar termasuk stom yang memiliki elektronegativitas tinggi, maka sisa 1 elektron ini turut serta dalam pembentukan hibridisasi pada orbital p.
Jadi jumlah orbitalnya adalah 2 + 1.
➡ orbitalnya ada 3, terdiri 1 orbital s, 2 orbital p jadi orbital hibridanya sp2.
➡ PEB pada NO2 tidak ada, yang ada berupa 1 elektron tanpa pasangan (radikal bebas). Pada kasus NO2 orbital elektron tunggal atau radikal bebas ini turut dalam proses hibridisasi.

Orbital elektron tunggal bisa dikatakan mengalami hibridisasi, ketika atom pusat berikatan dengan atom yang sangat elektronegatif. Hal ini karena penurunan densitas elektron pada atom pusat yang kemudian menarik kerapatan orbital elektron ganjil hingga harus terhibridisasi, misalnya pada CF3 adalah hibridisasi sp3, bukan sp2.

CF3 ➡ C elektron valensi 4, F elektron valensi 7
Jumlah elektron valensi = 4 + (3 × 7) = 25,
25 ÷ 8 = 3 sisa 1.
Karena F termasuk atom yang elektronegativitasnya besar/tertinggi sehingga beda keelektronegatifannya besar pula, maka sisa 1 elektron ini akan menyebabkan hibridisasi 1 orbital p.
Jadi jumlah orbitalnya adalah 3 + 1 = 4.
➡ orbitalnya ada 4, terdiri 1 orbital s, 3 orbital p jadi orbital hibridanya sp3.
➡ 1 radikal bebas ini seolah bertindak sebagai PEB yang dapat mengalami hiperkonjugasi.

Atom yang terikat pada atom pusat keelektronegatifan tidak tinggi atau beda keelektronegatifannya dengan atom pusat tidak besar.

CH3 ➡ C elektron valensi 4, H elektron valensi 1
Jumlah elektron valensi = 4 + (3 × 1) = 7,
7 ÷ 2 = 3 sisa 1.
Karena atom sekitar memiliki elektronegativias tidak besar (H mempunyai elektronegativitas 2,2) maka radikal bebas (sisa 1 elektron) itu tidak terlibat dalam pembentukan orbital hibrida.
Jumlah orbitalnya CH3 hanya ada 3, terdiri dari 1 orbital s dan 2 orbital p, jadi orbital hibridanya sp2.
➡ PEB pada CH3 tidak ada, yang ada berupa 1 elektron tanpa pasangan (radikal bebas).

Setelah diketahui orbital hibridanya biasanya akan ditanya bentuk molekul atau geometri molekul. Pastikan diri paham beda antara geometri molekul dengan geometeri elektron. Pada geometri elektron semua elektron dipandang dalam penentuan bentuk geometrinya, sedangkan pada geometri molekul pasangan elektron bebas tidak dipandang meskipun ia mempengaruhi bentuk geometri molekul.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)

meCKZINK

Memuat...

Arsip Blog

Topik

asam dan basa buffer hidrokarbon kesetimbangan kimia kimia kimia unsur laju reaksi makromolekul polimer reaksi redoks sel elektrokimia senyawa karbon soal OSN soal osp soal un termokimia unsur radioaktif

Popular Posts

  • Golongan Alkali atau Golongan IA
    Unsur-unsur pada golongan IA dalam tabel periodik dikenal juga dengan nama unsur alkali , karena semua anggotanya bereaksi dengan air memb...
  • Cara Mengidentifikasi Jenis Gaya Antarmolekul (Antarpartikel)
    Tulisan ini akan menjelaskan prosedur menentukan jenis interaksi antarpartikel dari spesi-spesi yang ada. Prosedur untuk dapat mengidentifik...
  • Dari Mana Asal Angka 10 Rumus Konversi Molaritas itu?
    Beberapa buku kimia terdapat rumus konversi satuan konsentrasi larutan dari kadar (a%), massa jenis (ρ, dibaca rho), dan data massa molar za...
  • Memahami Grafik tentang Laju Reaksi Dan Variasi Soal
    Laju reaksi pada beberapa kesempatan dijelaskan dengan menggunakan grafik atau diagram atau kurva dengan berbagi pasangan variabel. Untuk ca...
  • Grafik Orde Reaksi
    Grafik Berdasarkan Orde Reaksi . Beberapa grafik orde reaksi yang umum terdapat dalam persamaan reaksi kimia beserta maknanya sebagai berik...
  • Penurunan Rumus pH pada Hidrolisis Garam
    Pada artikel Penurunan Rumus pH pada Hidrolisis Garam ini kita akan menurunkan rumus-rumus yang telah digunakan sebelumnya. Kita akan men...
  • Kos Jakarta Pusat, Sawah Besar, Gajah Mada, Hayam Wuruk Murah Full Fasilitas
    Harga promo ,kos kmd dalam/luar harga 1 juta- 1,1 juta per bulan, semuanya pakai AC,bisa harian ,mingguan, jl.kebun jeruk 7 no.4 kota hayam ...

Navigasi

  • Home
  • disclaimer
  • sitemap
Ehcrodeh. Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright © KMA. Template by : Petunjuk Onlene